Saat Kristen Berpisah Dengan Yahudi

 Awalnya Kristen dianggap sebagai sebuah sekte sempalan agama Yahudi karena semua penganutnya adalah orang Yahudi. Kristen setelah kenaikan Yesus ke Surga hanya memiliki beberapa ratus pengikut. Tetapi terjadi kenaikan yang signifikan setelah kotbah Petrus di Yerulsalem yang mampu menarik beberapa ribu pengikut yang semuanya berlatar belakang Yahudi meski tidak berdomisili di Tanah Yudea.

Kotbah Petrus yang oleh sebagian orang dianggap sebagai KKR pertama menjadi titik awal bahwa Kristen bukan menjadi agama yang bersifat lokal meski masih berlatar belakang Yahudi. Kotbah Petrus mengena pada para perantau Yahudi yang sedang berziarah ke Yerulsalem (Kis 2:5). Penganut kristen yang awalnya berkisar ratusan kini menjadi ribuan yang meliputi orang Yahudi diluar Yudea. Kristen sudah mejadi agama yang plural setidaknya secara bahasa meski masih seputar orang Yahudi. Orang Yahudi yang sudah merantau dan berdomisili di luar tanah Israel memiliki pandangan yang berbeda dengan orang Yahudi lokal. Pemikiran-pemikiran baru yang mereka terima selama hidup dalam perantauan akan mempengaruhi konsep hidup yang berbeda.

Pemberitaan Injil secara intensif pada masa awal kekristenan masih seputar Yerulsalem meski penganutnya sudah banyak dari luar Yerulsalem hingga setelah Martirnya Stefanus dan kemudian disusul oleh penganiayaan di Yerulsalem membuat Para Pekabar Injil mulai melakukan pelayanannya keluar Yerulsalem.   

Di kalangan  Yahudi sendiri terbagi menjadi empat golongan besar dan beberapa kelompok kecil yang memiliki pandangan berbeda dalam menghadapi situasi aktual pada masa itu. Kelompok-kelompok itu adalah Farisi, Saduki, Eseni dan Zealot serta beberapa kelompok sempalan kecil yang lebih bermotif politik. Untuk membahas kelompok-kelompok perlu sebuah artikel terpisah.

Awalnya Kristen dianggap hanya kelompok sempalan kecil dari Yudaisme sehingga kata “Kristen” itu sendiri hanya sebuah kata ejekan untuk orang yang memisahkan diri dari Yudaisme yang mengakui Yesus sebagai Kristus (Juru Selamat).

Yesus Kristus Dari Gereja Hagia Sophia (Sumber : Wikipedia)


Pada masa itu dimana Tanah Israel berada dalam penjajahan Romawi membuat kesenjangan sosial ekonomi bergitu jomblang. Kelompok elite lebih peduli dengan kehidupan sosial kaum sendiri, kelompok Farisi yang dahulu sebagai pembaharu kini sudah menjadi kelompok yang rigid dan kaku. Kehidupan sosial ekonomi yang keras karena tekanan penjajahan membat mayoritas penduduk Israel berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Pengangkatan petugas pajak (pemungut cukai) dengan sistem lelang membuat tekanan semakin berat. Pemungut cukai yang diangkat adalah orang yang berani memberikan tawaran tertinggi kepada pemerintah penjajah sehingga tidak heran pemungut cukai dicap sebagai antek penjajah dan penghisap darah rakyat.

Beratnya kehidupan pada masa itu membuat banyak orang israel terutama kaum pria lari dan bergabung dengan kelompok bandit dan kelompok perlawanan serta banyak juga yang dipenjara dan dijadikan budak karena ketidakmampuan membayar pajak atau hutang sehingga wanita yang ditinggal suami menjadi hal umum. Kaum janda sendiri menjadi seperti orang yang terpinggirkan karena tidak memiliki pria yang melindungi. Kelompok agama yang seharus menjadi pembebas karena pengetahuan dan kedekatan pada Tuhan hanya mampu menerapkan aturan keagamaan tanpa ada tindakan nyata. Pada periode sebelumnya memang kaum agamawan (imam) yang dipimpin keluarga Makabe mampu memerdekakan tanah Israel. Tahun Yobel sebagai tahun keagaman seperti perintah dalam Taurat yang didambakan sebagai harapan untuk pembebasan dari hutang hanya menjadi mimpi belaka. Meski beberapa perlawanan didukung para agamawan hanya terjadi disaat pemerinatahn Romawi bersingungan langsung dengan masalah agama seperti  penempatan patung Zeus di Bait Allah. Selebihnya mereka mendapat keuntungan dari prosesi keagamaan.

Gaya Hidup orang Kristen awal yang memiliki tingkat solidaritas sosial yang tinggi membuat banyak orang tertarik untuk bergabung. Kelompok Yahudi Kristen yang bebahasa Yunani yang berpikiran maju tentang pekerjaan sosial yang ditujukan kepada para janda. Sehingga terbentuk diaken pertama yang salah satunya adalah Stefanus.

Keunikan Yudaisme sebagai agama monotheis membuat kelompok diluar Yahudi tertarik untuk mengikutinya, beberapa orang yang bergenetik bukan Yahudi sudah secara terang-terangan menganut agama Yahudi. Kornelius adalah salah satu contohnya, sebagai seorang centurion atau komandan kompi dari pasukan Italia, dia menjadi penganut agama Yahudi.  Pasukan Italia adala unit elit militer lebih sebagai pasukan tempur yang mana tidak bisa mencampuri urusan lokal pemerintahan. Bisa jadi Kornelius menjadi orang pertama diluar Yahudi yang menjadi Kristen.

Perintah Amanat Agung Yesus untuk menjadi segala bangsa muridnya sudah mulai dijalankan, tetapi panduan tentang bagaimana seharusnya seorang non Yahudi menjadi Kristen belum dibuat sehingga diadakan pertemuan yang disebut sebut konsili pertama di Yerulsalem. Tahun kapan konsisili ini diadakan masih menjadi bahan perdebatan.  Pengaruh Yudaisme yang kuat karena memang orang Yahudi masih menjadi mayoritas dalam kekristenan sehingga mereka menginginkan sunat menjadi prasyarat menjadi Kristen tetapi Rasul Paulus sendiri menyatakan bahwa Iman Kristen harus menjadi berkat bagi segala bangsa dan tidak menambahkan aturan Yahudi untuk menjadi syarat menjadi Kristen untuk membangunkan pondok Daud yang telah roboh diterima oleh peserta konsili. (Kisah Para Rasul 15)  

Segera setalah konsili Yerulsalem Kristen tersebar cepat ke segala penjuru dunia, selain Para Rasul yang aktif mengabarkan Injil para jemaat mula-mula juga katif mengabarkan injil. Seiring dengan berjalannya waktu, Kristen menunjukan corak yang berbeda dengan Yudaisme, selain Kristen sudah menjadi agama universal dimana  penganut dari berbagai suku sehingga orang Yahudi menjadi minoritas dalam Kristen.

Penyebaran Umat Kristen dari Abad Pertama Hingga Abad ketiga Masehi (Sumber: Wikipedia)


Pandangan umum agama Yahudi dipandang sebagai agama keras yang berbeda dengan Kristen yang memiliki Allah yang penuh kasih dan lembut membuat pembedaan ini semakin jelas. Beberapa kali pembrontakan Yahudi terhadap pemerintahan Romawi, orang Kristen tidak turut melibatkan diri untuk ambil bagian. Bagi kaum Yahudi orang Yahudi Kristen dianggap tidak patriotik dan pengecut meskipun menghadapi tekanan yang sama dari penjajah Romawi. menurut orang Kristen kekerasan adalah hal perlu dihindari karena tidak sesuai dengan ajaran Yesus. 

Pengakuan secara legal dari kekaisaran Romawi bahwa kristen bukan bagian dari Yudaisme terjadi saat pemerintah Kaisar Nerva (96-98) dimana dia saat pengeluarkan aturan pajak berdasarkan agama yang dianut yang memisahkan antara Yahudi dan Kristen. 

Komentar